MGtbNGJ8Mqt9NaZ4MqN9MGRbMDcsynIkynwbzD1c

Cerpen Tyas W.: Bara yang Tak Mampu Membara

BLANTERLANDINGv101
5821456843096345225

Cerpen Tyas W.: Bara yang Tak Mampu Membara

 Bara yang Tak Mampu Membara

Oleh: Tyas W.

 

Jadi, siapakah jajak insan yang pantas menerima kobaran apimu, Bara? Mereka yang telah membuatmu gamang tanpa peduli kemana lagi jejak singgah yang akan kau tuju. Waktu terus berputar menemani pancaran purnama yang semakin terang. Padahal piranti gawaimu akan segera meredup. Sementara panas nasi lezat itu perlahan menguap bersama angin malam.

Dan, tempat ini pun kau tak mengenalnya. Spidometermu mencatat tiga belas kilometer perjalanan. Tempat yang cukup jauh dari perkotaan. Jauh dari hiruk-pikuk kemacetan. Sepi. Seperti sebuah desa yang dihimpit penuh misteri. Lihatlah jalan setapak yang kau telusuri. Di kanan-kiri penuh pohon randu menjulang tinggi. Berjarak sepetak kau temui juru kunci. Jika kau endus baunya pasti sewangi melati. Namun, tentu saja kau bukan lelaki dengan segudang syirik menghantui. Kau sangat rajin dalam ibadah. Kau juga selalu menjaga tata krama.

Bukankah aku memahami perangaimu melebihi istrimu? Bahkan aku menemanimu lebih lama sebelum kau madu. Ingatkah kau saat masih menjadi mahasiswa dulu? Kau begitu tergila-gila padaku. Kau bahkan ingin merebut diriku dari tangan kawanmu meski dengan bersusah-payah mengumpulkan koin demi meminangku. Dari mana kau dapatkan koin itu, Bara? Ya, dari menulis buku.

            Aku menyaksikan perjuanganmu. Kuberi tahu satu hal. Di tengah kesibukanmu menyelesaikan skripsi, kau punya hobi dan ketertarikan di bidang sastra. Jangan mengira kau adalah orang hebat yang mampu menghasilkan karya menarik dalam waktu singkat. Kau jauh dari itu. Kau hanya seorang penulis kacangan yang tekun menulis apa yang kau rasa, kau lihat dan kau dengar. Dan saat sebuah karyamu tembus ke media, dari situlah kau terus menghadirkan kisah dan setumpuk puisi hasil goresan pena. Banyak orang menunjukkan apresiasi positif terhadap kertas-kertas yang telah kau tulisi itu. Aku tersanjung, tapi sepertinya mereka terlalu hiperbolis. Buktinya, kau tak lagi melanjutkan karya-karya itu. Kau rela mengubur imajinasimu demi sebuah pekerjaan bermutu.

            Oke! Maafkan aku terlalu banyak bercerita tentang dirimu. Kita kembali ke ruang semula dimana setiap orang termasuk aku menyebutnya sebagai perpustakaan. Benar, di tempat inilah selain kau gunakan sebagai tempat mencari buku teori dan rujukan lain, kau sering memisahkan diri dari keramaian, sejenak melepas kelelahanmu secara psikis akibat jadwal proposal skripsimu. Juga di tempat itulah kau sering menyelesaikan karya-karya yang sudah menjadi hobimu itu. Aku selalu menunggumu di seberang. Menanti kedatangan lalu mengantarmu ke peraduan. Namun, gadis itu. Iya, dia yang kini menjadi pendampingmu, berhasil mengubah cara pandangmu. Kau telanjur mencintainya hingga mengorbankan impian menjadi penulis kondang.

            ”Kakak iparku adalah seorang dokter, kakak keduaku dosen, dan yang ketiga seorang polisi. Ayah ingin menantunya berpendidikan tinggi dan bekerja mapan semua. Bukan penulis yang tidak terlalu jelas royalti per bukunya,” ujarnya.

            ”Tidak, Bara! Aku melihat potensimu!” teriakku. Namun, kau tak bergeming. Tidakkah kau lihat hasil jerih payah menulismu selama ini? Kau sungguh luar biasa. Tahukah kau? Terkadang sesuatu yang disepelekan justru ia sangat menguatkan.

”Baraaa...!” Lagi-lagi kau mengabaikanku. Kau hanya peduli pada gadis itu.

            Baiklah. Aku pun mengalah melihat keberuntunganmu. Sebelum menikahinya, kau diterima menjadi buruh. Pekerjaanmu memang bergengsi, tapi sayang kau tak cukup mampu mengatasi. Kau tak seberuntung burung-burung yang bertengger di ujung atap gedung. Burung itu mujur. Mereka masih memiliki tempat di sela bangunan yang semakin marak. Burung-burung itu masih mampu menikmati alam raya sebagai habitatnya. 

    Alam masih berpihak padanya. Masih menyisakan pepohonan. Menyisakan hujan yang menyejukkan. Menyisakan desir angin yang menenteramkan. Juga embun yang menenangkan. Entah, dimana mereka akan tinggal jika semuanya berganti menjadi hutan beton atau berganti menjadi gedung pencakar langit. Namun, kuakui masih ada beratus dari berjuta orang yang peduli pada alam. Burung-burung itu seperti ingin menyerukan sebuah pesan. Ada pesan keharmonisan yang ingin disuarakan. Ada pesan keseimbangan alam yang ingin disampaikan. Juga pesan kebebasan yang bertanggung jawab untuk dinyanyikan.

    Jaga alam ini! Tempat tinggalmu dan tempat tinggalku! Jagalah agar semua seimbang antara balok-balok semen yang kau bangun dengan pepohonan yang memberikan oksigen kehidupan! Begitulah suara-suara samar itu memenuhi telingaku.

    Lamat-lamat, dengarkanlah pesan itu! Suara-suara sunyi yang diserukan oleh sepasang burung. Hingga kau mampu mendengarkan suara hatimu sendiri. Seharusnya kau tahu, orang sibuk hanya label bagi mereka para pekerja, tapi orang produktif sepertimu seharusnya fokus pada hasilnya. Sekarang kau mengerti, ‘kan, Bara? Kau tak mahir menghimpun anak buahmu. Pasokan produksi di bawah kepemimpinanmu pun kerap tak maju. Kau sadar hal itu sehingga berkali-kali perusahaan menggilirmu di bidang-bidang tertentu, tapi hasilnya sama. Nihil.    

            Sejak negara ini dilanda wabah, saat itulah kehidupanmu berubah. Wabah yang menjangkiti manusia begitu buas. Banyak orang dihimbau agar berdiam diri di rumah. Aparat sangat ketat mendisiplinkan warga. Aturan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tidak bisa dilawan. Apalagi kau tinggal di daerah zona merah wabah. Banyak kasus positif virus di wilayahmu. Belum lagi, kasus tahanan yang dibebaskan membuat masalah kian menumpuk. Bagaimanapun, mereka akan jadi pemakan tanpa guna di tengah situasi ekonomi yang sulit. Penghasilan masyarakat benar-benar pontang-panting. Para pedagang bagai hidup segan, mati tak mau. Begitu pula para pekerja yang mengalami pembatasan tenaga kerja seperti dirimu.

            Bara terdiam. Kakinya terasa berat beranjak dari tempatnya mematung kini. Ia berdiri di depan papan besar yang berisi sederetan nama-nama. Bara hampir tidak mempercayai kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Ia bingung. Matanya nampak tak sanggup membendung air mata yang berdesakan keluar. Namun, hal itu pantang kau lakukan sebab kau lelaki.

Aku memperhatikannya dari tempatku berdiri di sebuah teras. Otaknya seperti berpikir keras. Mencari jalan keluar atau apa pun yang akan ia lakukan selanjutnya. Tapi gagal. Ia masih buntu. Kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Ia menunduk lesu. Dengan langkah gontai, lelaki berambut ikal itu nampak mondar-mandir di ruangan yang menjadi kantor terakhirnya.

            Harapannya kandas. Begitu juga harapan ayah mertuanya hanya tinggal angan-angan. Kulihat istrinya nampak tegar menghadapi kenyataan ini, tapi ia tidak mampu menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Ya, aku melihat kebingungan jelas terpancar dari wajah ibu dua anak itu. Dan nampaknya bukan hanya bingung, tapi juga sangat terpukul. Matanya yang dapat kutangkap, terlihat berkaca-kaca, menahan tangis yang hendak pecah. Entah apa yang terjadi pada ayahnya jika tahu menantunya dipecat. Bukan saja mengecewakan, tapi ayahnya pasti malu dan keras memikirkan nasib anak perempuan serta cucunya.

            Sesekali, Bara menoleh kepada wanita yang menjadi pendampingnya itu. Dan ia mendapati wajah wanita itu lebih gusar dari dirinya. Kekhawatiran jelas menguasai wajahnya.

”Ayah tidak boleh mengetahui hal ini, Mas, secepatnya kau harus mencari pekerjaan baru,” katanya.

Kau hanya bisa menurut. Raut wajahmu nampak sangat cemas dan berujar yang tak lain kau tujukan pada dirimu sendiri. Ojek online adalah pilihanku saat ini.

            Oh, tidak, Bara! Apakah kau sudah memikirkan matang-matang? Bukankah aparat berseliweran dimana-mana demi keselamatan warganya dari wabah? Berdiam dirilah di rumah lalu tumpahkan keliaran pikiranmu seperti dulu. Rasakan betapa bahagianya hatimu setiap kali menulis. Membuat coretan di atas buku. Menghabiskan waktu menunggu dengan menumpahkan isi pikiran, mengawinkan pensil di atas kertas, lalu memainkan jemari di atas tuts komputer. Ingatlah ketika kau tertawa dalam diammu tentang tokoh yang kau hadirkan di lembar-lembar novel. Mereka adalah tokoh nyata di dunia lain, entah itu aku atau kamu. Ia bisa jadi sosok ideal, atau bahkan sosok yang seharusnya tak boleh ada di muka bumi ini seperti Firaun karena kejahatannya. Menarik bukan? Apalagi jika kau menuliskannya dalam media yang sangat maju seperti saat ini. Akan bisa ditebak hasilnya. Begitulah, Bara, seharusnya kau membara.

Ya Tuhan... hidup ini memang pilihan. Ingin sekali aku berbisik kepada Bara, tapi aku tak mampu. Barangkali sudah jadi nasibnya. Hampir 2 jam sejak pembeli terakhir datang, ia terus menunggu pembeli berikutnya. Menengok kanan-kiri, sambil menelan ludah. Sekali lagi aku memahami perangainya melebihi istrinya. Lelaki itu semakin meringkuk pasrah. Namun, raut wajah anak dan istrinya membenamkan keletihannya. Ah, rupanya masih ada kesempatan. Tidak lama setelah itu, gawainya berdering, pesanan datang. Sebanyak lima bungkus nasi goreng dan lima cup es teh pesanan pelanggan segera diantar. Dengan girang ia melaju hingga sampai di padang gelap penuh kelelawar berseliweran seperti aparat. Oh, tidak, tempat apa ini?

            Mendadak aku tersadar. Kau pasti tertipu seperti minggu lalu. Berpuluh kali kau putari desa itu, mereka tak akan mengaku, sebab pembeli itu adalah pelanggan palsu. Ya. Kusaksikan bulir kekecewaan menutupi pandanganmu. Kau duduk terhuyung meratapi raibnya uang seratus lima puluh ribu. Kalaupun kau mengadu padaku, aku tak mungkin bisa menjawabnya karena aku hanyalah motor butut yang menjadi idolamu. Aku hanya teringat masa lalu, seandainya kau kobarkan api bakat dalam dirimu, tentu saat ini kau telah menjadi penulis masyhur.(*)

*****            

 

Identitas Penulis:

Nama                           : Tyas Wulan Sari

ID instagram               : tyaswulan16

E-mail                          : thy_thalita87@yahoo.co.id, tyaswulan1606@gmail.com


BLANTERLANDINGv101
  1. Balasan
    1. Salam cikguuu...tetep belajar bersamamu🥰

      Hapus
  2. Cerpenis Sidoarjo. Salam sukses untuk mbak Tyas.

    BalasHapus
  3. Mbak Yun...pakar artikel mah klo dirimuuu🥰 sukses selalu utk mu

    BalasHapus

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang