MGtbNGJ8Mqt9NaZ4MqN9MGRbMDcsynIkynwbzD1c

Cerpen Niswahikmah: Menolak Ditolak

BLANTERLANDINGv101
5821456843096345225

Cerpen Niswahikmah: Menolak Ditolak

 

Menolak Ditolak

Niswahikmah

 


Maaf, aku sama sekali nggak bermaksud menyakiti, tapi aku nggak bisa menerima lamaranmu. Semoga bisa menemukan yang lebih baik dariku. Salam.

 

Pesan itu masuk ke ponsel Rizky di hari Senin malam. Ia terpekur membacanya. Sesaat, ia merasa percaya dirinya hilang. Namun, di sisi lain, ia juga tidak terlampau kaget dengan hasilnya karena orang-orang sudah mewanti-wanti. Berulang kali sebelum diutarakannya niat, mereka sudah bilang, “Dia sudah menolak sekian banyak laki-laki. Kamu cuma akan jadi korban berikutnya.”

Bahkan, salah satu teman cowok yang juga pernah ditolak menggembosi niatnya. “Udah, mundur aja, daripada hasilnya ntar kayak aku.” Namun, ia tidak mau mundur sebelum mencoba. Pantang baginya menyerah sebelum berusaha. Maka, dengan modal basmalah, didatanginya rumah gadis itu untuk mengutarakan maksud hati.

Tidak menunggu sampai seminggu untuk mendapatkan hasilnya. Hanya dua hari, ia sudah menerima pesan tersebut.

Menghela napas, Rizky menggulir layar ponselnya dan mengetikkan jawaban.

Aku belum melampirkan CV dan kita belum saling berkenalan. Mungkin aku salah langkah langsung melamar, tapi aku bersedia kalau kita saling mengenal dulu. Bagaimana kira-kira?

Setelah membaca ulang dan memastikan jawabannya tidak terlampau menekan, ia memencet ikon ‘kirim’. Seharusnya tidak jadi soal untuk saling kenalan. Mungkin saja, hanya dirinya yang mengenal baik, tapi gadis itu tidak tahu apa-apa, sehingga kaget ketika langsung mendapat pinangan. Ia bisa membayangkan gadis itu berpikir tentang hidup dengan orang asing secara tiba-tiba, pasti rasanya tidak nyaman.

Namun, pesan itu tidak harus menunggu lama untuk terbalas.

Maaf, sepertinya nggak bisa. Aku belum siap.

Ia meletakkan ponselnya lunglai. Benarkah karena belum siap? Setahunya, usia gadis itu sudah cukup untuk menikah. Kariernya cukup bagus meski masih menempuh pendidikan yang hampir selesai. Dari pihak keluarga juga kelihatannya tidak ada permintaan untuk menunda pernikahan, bahkan mereka menyambut baik kedatangannya dua hari yang lalu.

Jauh di dalam hati, Rizky yakin, ada yang tidak beres.

***

“Tuh kan, apa aku bilang? Udah pasti ditolak. Kamu pake nekat segala.”

Teman cowok yang sebelumnya ia maksud kini duduk di hadapannya, terpisah meja di hadapan yang menyajikan sepiring soto ayam. Istirahat kerja mereka gunakan untuk makan siang bersama. Meski tidak seperusahaan, tapi kantor keduanya cukup dekat dan kadang mereka bertemu di kedai yang terletak di tengah-tengah.

“Ya, kan cowok harus berani nyoba,” sahutnya. “Tapi aku ngerasa ada yang nggak beres, deh, Lang.”

Cowok bernama Elang itu memeras jeruk nipis dan menambahkan kecap pada sotonya. Sambil menyendok sambal, ia menjawab, “Iya lah, nggak beres. Cewek nolak puluhan laki-laki, padahal kualifikasinya cetar semua. Udah jelas dia itu nggak normal.”

“Hush! Kamu enak aja kalo ngomong.”

Elang terkekeh mendengar nada bicara rekannya. “Yah, ini aku masih pake bahasa halus. Sebagian yang ditolak malah bilang kayaknya dia nggak suka cowok, deh. Lesbi.” Meski disampaikan dengan berbisik, tetap saja membuat Rizky tersedak dan batuk-batuk. Cowok bermata cokelat itu menyedot jusnya.

“Itu kesimpulan dari mana coba? Dia itu akhwat, pake kerudung, sering ikut majelis ilmu. Ngawur aja kamu!” sahutnya kemudian.

“Yeee, ngeyel kamu dibilangin. Daftar cowok yang ditolak dia itu segunung. Dan alasannya ada aja. Mulai dari nggak cocok, keluarga nggak merestui, belum siap, dan lain-lain. Harusnya kalau masalah siap, dia udah siap sejak lulus S-1, lah. Sekarang udah hampir selesai S-2, malah.”

Argumentasi Elang ada benarnya, tapi kesiapan menikah tidak diukur dari strata pendidikannya. Boleh jadi juga memang ada yang tidak cocok di diri pelamar, makanya ditolak. Ia mengusir pikiran-pikiran negatif dalam kepalanya yang membenarkan omongan temannya itu.

“Bisa-bisa jadi perawan tua dia,” lanjut Elang.

Rizky mendengkus. “Ada juga kamu, perjaka tua, gagal move on.” Ia ngakak melihat ekspresi kecut Elang karena masalahnya diungkit-ungkit. Ya, Elang baru putus dari pacarnya dua bulan lalu, dan belum bisa menghilangkan rasa cintanya.

Mereka melanjutkan makan dengan tenang. Usai menandaskan mangkok soto masing-masing, ponsel Rizky bergetar. Ia memeriksanya selagi Elang beranjak membayar tagihan. Ada notifikasi dari website yang biasa dilihatnya, memuat konten cerpen. Sudah lama sejak cerpen terakhir tayang di laman tersebut. Penasaran, ia mengeklik notifikasi tersebut, dan laman Google Chrome segera memenuhi layar.

Gadis yang Meringkuk dalam Sepi

Karya Roihatuzzahra.

***

Jika seorang seniman tidak mau diajak berkenalan, maka kenali dia lewat karya-karyanya. Entah itu pelukis, musisi, artis, atau penulis, kita akan selalu bisa “mengenalinya” lewat apa yang dia hasilkan. Seniman menuangkan ide-ide pikiran dalam karyanya, bahkan kadang itu merefleksikan gejolak hati dan pengalamannya. Secara sadar atau tidak, mereka bisa menjadikan sejarah pribadi sebagai inspirasi karya.

Maka, Rizky menemukan cara lain untuk mengenalinya tanpa harus benar-benar bicara. Kemungkinan kesamaan nama sangatlah kecil, mengingat nama gadis itu tidak terlalu pasaran. Selain itu, ia sudah memastikan bahwa Zahra, gadis itu, memang penulis. Media sosialnya memuat keterangan pekerjaan lepas yang dijalaninya, pula tautan cerpen dan artikel buatannya yang tembus media.

Di hari libur, Rizky menyempatkan diri duduk di depan laptop, menyelusuri internet untuk mencari lebih banyak cerpen karangan Zahra. Ia ketikkan nama yang biasa dipakai untuk publikasi—lebih singkat daripada nama asli—dan menemukan lusinan daftar cerpen karangannya.

Mati di Bui

Agama Orang-Orang yang Marah

Ditelan Kenangan

Wanita Itu Memilih Menghilang

Pernikahan Keduabelas

Pengantin Terakhir

Ia membaca semua judul, mula-mula, dan menemukan sebagian besar menyiratkan tema-tema berunsur duka. Setelah membaca beberapa, ia bisa menyimpulkan bahwa gadis itu selalu memakai konflik batin dalam ceritanya. Sebagian membahas keluarga yang broken home, kegagalan pernikahan, kenakalan remaja, serta kesehatan mental. Sisanya mengkritik kebiasaan sosial masyarakat yang kurang baik.

Tulisan-tulisan itu membuat Rizky seperti diaduk-aduk emosi. Seolah ia sedang melihat gadis itu menuliskannya di hadapan layar dengan sepenuh perasaan. Mengingat beberapa tema terulang dengan ide cerita yang berbeda, ia bisa mengidentifikasi bahwa kemungkinan inspirasi dari tema-tema itu adalah dirinya sendiri.

Jika memang hipotesisnya benar, berarti Zahra ada dalam posisi rawan secara emosional. Sangat mungkin keputusannya menolak laki-laki tumbuh dari gagasan-gagasan dalam kepalanya, yang kadang irasional. Seperti cerpen-cerpennya yang menyuguhkan metafora, mungkin ada begitu banyak luka yang ia sembunyikan dalam-dalam. Atau mungkin tidak. Ini perlu untuk dipastikan.

Rizky meraih ponselnya, mengetikkan beberapa kata di laman chat, sembari berharap nomornya belum diblokir demi menghindari komunikasi lebih lanjut pasca penolakan.

Aku nggak masalah dengan keputusanmu. Tapi, kalau kita tetap berteman baik, bisa kan?

Dengan basmalah, ia mengirim pesan itu.

***

Pertemuan pertama Rizky dan Zahra sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Mungkin gadis itu tidak ingat kalau Rizky satu almamater dengannya. Tentu saja, karena mereka tidak satu fakultas. Namun, beberapa kali Rizky mengikuti acara di fakultas lain, dan bertemu Zahra di Fakultas Bahasa dan Budaya. Gadis itu aktif menjadi anggota HIMA dan menjadi panitia di beberapa acara kampus juga. Beda dengan Rizky yang hanya mampu bertahan satu tahun di Himpunan Mahasiswa, kemudian memutuskan hanya fokus di UKM Bisnis untuk mengembangkan passion-nya di bidang marketing produk.

Rizky dua tahun lebih tua dibanding Zahra, jadi tentu ia lulus lebih dulu dan bekerja di kota yang sama dengan letak kampus itu. Maka, ia masih bisa memantau adik-adik tingkat satu per satu lulus, begitu pula Zahra. Suatu hari, gadis itu diajak bekerja sama oleh kantornya untuk pemasaran suatu produk. Jadi, ia sering mondar-mandir ke kantor, tapi Rizky bukan penanggung jawab produk tersebut, dan tidak terlalu tahu kontribusinya. Hanya saja, itu membuat intensitas pertemuan mereka meningkat dan menumbuhkan perasaan lain di hati Rizky.

Baru-baru ini, setelah melakukan riset singkat seputar karya-karya Zahra, ia baru tahu, gadis itu sempat menjadi content writer freelance untuk produk yang dirilis perusahaannya saat itu. Bukan brand ambassador atau sales marketing seperti dugaannya dulu.

“Yah, masa kamu nggak tahu sih, Ky? Kan dia pinter nulis, makanya kita rekrut. Sebenernya mau jadi karyawan tetap karena performanya bagus, tapi dia ngutamain S-2 dulu. Jadi, paling selesai S-2, bos mau ambil dia,” cerita teman yang meja kerjanya bersebelahan dengannya.

Rizky manggut-manggut. Ia membuka ponsel dan melihat lagi jawaban dari pesan yang dikirimnya kemarin.

Zahra: Iya, bisa. Mohon maaf sekali lagi, ya.

Rizky: Udah, stop minta maafnya. Ngomong-ngomong, kamu suka nulis, kan? Aku nggak sengaja nemu cerpenmu kemarin di website X.

Pendekatan ini terbukti efektif. Zahra mau membalas, dan dari bahasanya, ia kelihatan lebih relaks saat Rizky membicarakan hobi—atau profesinya—itu. Rizky yakin, bukannya gadis itu tidak suka laki-laki, tapi ia hanya mencari lelaki yang “tepat”.

***

Ia kira, definisi “tepat” adalah bisa memahami latar belakang gadis itu, yang sesuai dugaan mengalami guncangan dalam keluarga, juga bisa mengerti soal hobinya. Namun, Rizky baru tahu bahwa maksud “tepat” juga adalah mengerti problema psikologis dari konflik-konflik batin yang Zahra cerminkan dalam cerpen-cerpennya.

Aku nulis cerpen juga untuk katarsis. Makanya, tema-temanya banyak yang sama. Sebagian memang nyata terjadi, tapi aku kasih ending yang bahagia, dengan harapan ending itulah yang jadi kenyataan kelak.

Rizky melanjutkan membaca opini-opini yang juga di-posting Zahra di media sosialnya. Gadis itu menyorot mengenai pentingnya peran keluarga bagi anak-anak, rendahnya kesadaran orang tua untuk belajar ilmu parenting, permasalahan anak sekolah, juga tentang menghadapi kondisi mental yang down. Meski bukan mahasiswa Psikologi, ia mendapatkan insight dari teman-temannya di Fakultas Psikologi dan sharing dengan psikolog kenalannya, maupun sumber-sumber informasi valid di internet mengenai kajian psikologi.

Jadi, kalau stres, terus nulis, baikan ya? Aku coba juga deh, nanti. Kerjaan kadang suka bikin stres, pengin jalan-jalan juga repot ambil cutinya.

Rizky membuka diskusi-diskusi ringan beberapa hari sekali, dan semakin lama, respons Zahra tidak lagi secanggung sebelumnya. Obrolan mereka sudah mengalir meski tanpa tatap muka. Dan, Rizky tahu kalau masalahnya bukan pada kualifikasi laki-laki yang melamar, tapi gadis itu masih trauma pada pernikahan. Ketakutan akan perceraian orang tuanya sekaligus khawatir si laki-laki tidak bisa memahami kondisi psikisnya yang masih tidak stabil hingga kini, menjadi alasan semua penolakan itu.

Dalam pesan terakhir sebelum Rizky beristirahat hari itu, dia memberanikan diri bertanya.

Kalau ada laki-laki yang bisa memahami riwayat keluarga dan kondisi psikismu, gimana? Apa kamu masih khawatir?

Esok harinya, ia mendapatkan jawaban.

Mungkin enggak, kalau kualitas agamanya juga bagus. Tapi kriteriaku kebanyakan ya? Kayaknya bakal susah cari yang gitu, hehehe.

Rizky menggeleng, meski ia tahu Zahra tidak melihat. Sedikit lagi, Zah, tunggu aku, batinnya.

***

Hari-hari berikutnya ia habiskan untuk membeli buku-buku psikologi yang membahas efek perceraian dalam keluarga serta cara menjadi caregiver bagi penderita gangguan psikologis. Ia mencatat poin-poin penting dalam buku khusus. Ia juga mengerjakan tes-tes psikologi yang ada di dalam buku tersebut untuk menilai kesiapannya menjadi caregiver bila benar-benar mendampingi Zahra kelak.

Perlahan, ia juga mulai rajin salat duha, memperbaiki waktu tidurnya agar bisa bangun lebih pagi, tilawah lebih sering, sembari meluruskan niat. Bukan untuk Zahra, tapi untuk memperbaiki hubungannya dengan Allah. Sambil menguatkan hati, bahwa setelah semua usaha ini, kalaupun Zahra tidak memilihnya, tidak apa-apa. Ilmu yang didapat tidak sia-sia dan gadis lain masih ada. Penting sekali untuk mempersiapkan spiritual dan mental menghadapi kondisi apa pun nantinya.

Dalam persiapan itu, ia hanya sesekali mengontak Zahra kalau cerpen gadis itu dimuat atau ada hal-hal tentang psikologi yang ingin dibahasnya. Sisanya, ia memberi cukup ruang dan jarak agar mereka tidak terlalu terikat. Agar bila nanti harus saling menjauh, tidak akan terasa sulit.

Setelah merasa cukup siap, ia kembali bertemu Elang untuk bilang, “Doanya, Bro. Aku mau lamar Zahra lagi.”

“Eh, kan udah ditolak? Gila aja, ngapain dilamar lagi?” Elang mengernyit bingung.

Rizky angkat bahu. “Anggap aja percobaan kedua.”

“Heh! Cewek lain banyak kali.”

“Kalau cewek lain banyak, harusnya kamu udah move on dan pacaran lagi,” sahut Rizky asal, membuat lawan bicaranya mendengkus.

“Iya deh, suka-suka kamu. Semoga berhasil.”

Rizky mengamini dalam hati. Esok harinya, ia sudah berdiri di depan pintu rumah itu. Tidak sendiri, melainkan bersama ayahnya. Ia sudah menceritakan latar belakang keluarga dan kondisi Zahra yang agak berbeda, dengan harapan kelak tidak ada konflik saat gadis itu menjadi istrinya. Memikirkannya, Rizky tidak bisa menahan senyum.

Pintu di hadapannya terbuka. Kata demi kata mengalir dari belah bibir. Jeda sekian lama. Semua percakapan mereka dalam pesan-pesan singkat mengelilingi pikiran masing-masing. Dalam tunduk, keduanya memainkan jemari, mengakui kegugupan dalam hati.

Hingga sampai pada ujung, Rizky mendongak untuk mendapati Zahra tetap diam, tapi seulas senyum masih bisa ia tangkap dari wajahnya.

Jika diamnya wanita adalah “iya”, maka hari ini, lembaran baru telah resmi dibuka.

***

 

Profil Penulis

Niswahikmah, penulis dan editor lepas di beberapa penerbit indie. Bermukim di Sidoarjo. Telah menerbitkan enam buku solo dan tergabung dalam puluhan antologi bersama. Dapat dihubungi melalui IG: @sayapsenja atau FB: Niswa Hikmah Assaudiyah.

BLANTERLANDINGv101

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang